Tentang Inerie: Aku Membawamu ke Sini, Agar Kau Belajar Mencintai Gunung

- Jumat, 29 Juli 2022 | 09:47 WIB
Gunung Inerie. (Foto: Istimewa) // Sumber postingan Facebook milik Nikolaus Loy.
Gunung Inerie. (Foto: Istimewa) // Sumber postingan Facebook milik Nikolaus Loy.

KISAH, suluhdesa.com | Nak, ke ladang di kaki Gunung ini, Inerie, Ine Moi, buyutmu membawaku tinggal selama 2 tahun.

Nama kebunnya Kuru Jara. Wula Frei (Musim Libur) juga kami habiskan di kaki Gunung ini. Tanpa jam dinding atau arloji, TV, apalagi HP. Kadang-kadang kakekmu membawa radio kayu ke kaki Gunung. Saya ingat mereknya philips. Tanpa Ed Sheraan atau Drama Korea.

Kokok ayam hutan, suara oka koa (murai batu) dan fajar pagi di punggung bukit mengingatkan kami jam sekolah. Lalu kami berlari menuruni punggung Inerie agar tak kena rotan guru, termasuk guru Arnol, kakekmu.

Goresan di kaki oleh daun ilalang dan semak sepanjang setapak memacu semangat kami di sekolah. Saat jatuh dan luka, kami tertawa bersama. Kami jarang menangis karena itu. Kami lebih takut guru daripada luka-luka di kaki. guru-guru desa yang mengajar sepenuh hati, meski tak ada renumerasi atau sertifikasi.

Baca Juga: Senja dan Luka

Yang Bapak ingat adalah kobe sa (awan) turun dari Inerie di senja hari, menyelimuti hutan tropis dan tebe sa (Licheness/lumut kerak) yang menempel dan menggantung di pepohonan.

Aroma daun indigo menyeruak dari deretan periuk tanah liat tempat Ine Moi merendam benang. Indigo yang lalu menjelma jadi warna biru kain tenun. Kain yang memeluk kami di malam-malam menggigil turun dari puncak Inerie.

Malam-malam yang khas oleh suara-suara dan helaan napas turun dari rimba dalam.

Kadang-kadang Bapa Gaspar Melo dan Bapa Yan Gale menangkap ayam atau babi hutan. Makan enak setelah talas, jagung muda atau dhao rano (ubi Jalar yang dimasak tanpa mengupas).

Juni, juli, Agustus, September adalah kemarau panjang dan puncaknya 'wula mange' (bulan lapar) di Januari, cadangan pangan menipis, jagung di kebun belum bisa di panen. Ine Moi tak habis akal, untuk cucu-cucunya, ia menyimpan 'sui wuu', daging yang diawetkan dengan tepung jagung dan disimpan dalam tuku (tabung bambu).

Tidak ada GoFood, Nak. Hutan memberi kami makan saat lapar pulang sekolah. Tai Wawi, sera (entah apa namanya dalam Bahasa Indonesia), dan pisang, kelapa muda, tebu memberi makanan sepanjang perjalanan pulang.

Nah, ini ada tradisi yang sudah hilang. Jika kamu kehausan, apalagi sebagai kanak-kanak, kamu boleh memanjat dan memetik kelapa muda milik orang. Tetapi hanya untuk minum dan makan di tempat. Setelah bertemu dengan tuannya beberapa hari kemudian, kamu boleh bisa bilang, "pame/Pine (paman/tante), kemarin kami haus dan petik kelapa muda di....). Tidak ada denda adat, atau laporan polisi karena ini.

Aku membawamu ke sini, agar kau belajar mencintai Gunung, yang tak pernah menipu atau mengeluh.

Kapan kamu pulang dari kuliah lapangan? Tak lama lagi engkau menyelesaikan studi geologimu.

Halaman:

Editor: Frids Wawo Lado

Tags

Terkini

Renungan Indonesia: Makna Intelijen Negara

Senin, 6 Maret 2023 | 09:28 WIB

Pada Kasus Dugaan Bunuh Diri, Wartawan Buat Apa?

Sabtu, 18 Februari 2023 | 06:46 WIB
X