• Selasa, 27 September 2022

EBT Butuh EBT

- Senin, 8 Agustus 2022 | 08:49 WIB
Nikolaus Loy (Dosen HI UPN “Veteran” Yogyakarta) - (Foto: Istimewa)
Nikolaus Loy (Dosen HI UPN “Veteran” Yogyakarta) - (Foto: Istimewa)

Penulis: Nikolaus Loy (Dosen HI UPN “Veteran” Yogyakarta)


suluhdesa.com | Pemerintah serius meningkatkan penggunaan EBT (energi baru dan terbarukan).  Energi baru adalah energi yang dihasilkan dari energi fosil atau bukan, dengan menggunakan teknologi. Masuk adalam kelompok ini adalah nuklir, batubara cair, batubara yang digasifikasi. Sedangkan energi terbarukan dihasilkan dari sumber yang bisa memproduksi energi secara terus menerus. Masuk dalam jenis ini adalah tenaga surya, tenaga bayu, hidro, bio-energi  dan tenaga samudera.

Porsi EBT dalam bauran energi nasional ditargetkan sebesar 23 % (2025) dan 31 % (2050).  Porsi minyak diturunkan dari 25 % (2025), menjadi 20 % (2050). Batubara dari 35 % ke 20 30 % di dua tahun yang sama.

Transisi ke EBT didorong oleh beberapa alasan. Pertama, potensi sumber daya EBT yang sangat kaya. Kementerian ESDM melaporkan total potensi EBT sebesar 3.868 Gigawatt, tetapi pemanfaatanya baru sebesar 0,3 %. Sejauh ini, potensi.

Kedua, penurunan produksi minyak, Siaran pers kementerian ESDM pada Agustus 2021 menyebut angka 661 ribu barrel per hari. Sedangkan tingkat konsumsi BBM di atas 1 juta barrel per hari.

Impor minyak dilakukan untuk memenuhi konsumsi. Badan Pusat Statistik mencatat impor minyak mentah 1,58 juta ton di bulan Maret 2021. Bulan sebelumnya hanya sebesar 519,4 ribu ton. Juni 2022, nilai impor migas mencapai 319,2 juta dollar AS.

Kedua, subsidi dan beban APBN. Di pasar internasional, harga minyak sensitif terhadap konflik. Begitu ‘mercon’ meletus di zona penghasil minyak seperti Timur Tengah,  harga minyak terus memanjat grafik. Di dalam negeri, harga minyak sensitif secara politik. Harga minyak dunia melonjak,  pemerintah ‘pusing tujuh keliling’ sebelum menambah harga bahan bakar minyak.

Subsidi BBM mendamaikan kenaikan harga minyak dunia dengan harga BBM domestik yang rendah. Subsidi menahan harga BBM tetap terbeli dan membujuk harga-harga bahan pokok lain tetap tenang. Volume impor minyak tinggi, membuat angka subsidi juga  besar. Menkeu Sri Mulyani dalam dengar pendapat dengan badan anggaran DPR (1/7/2022) menyebut subsidi tahun 2022 sebesar Rp 571,8 trilliun. Energi menghabiskan  Rp 293,5 Trilliun. Subsidi energi ikut memperbesar defisit APBN tiap tahun.

Dampak lingkungan juga ikut mendorong penggunaan EBT. Minyak dan batubara makin beracun bagi lingkungan. Lembaga-lembaga donor mulai enggan membiayai pembangkit listrik tenaga batubara. Uni Eropa dan Jepang tak mau lagi pinjam uang untuk proyek listrik tak ramah bumi. Cina yang sebelumnya sangat murah hati memberi pinjaman, mulai menolak  membiayai pembangkit batubara.

Halaman:

Editor: Frids Wawo Lado

Tags

Terkini

EBT Butuh EBT

Senin, 8 Agustus 2022 | 08:49 WIB

Cium Hidung di NTT Hilang saat Pandemi Covid-19

Selasa, 10 Mei 2022 | 03:12 WIB

Kesetaraan: Konsep Utuh Eksistensi Manusia

Jumat, 11 Februari 2022 | 02:17 WIB

Opini Liar Kebakaran Kilang Cilacap

Senin, 22 November 2021 | 14:31 WIB

Terpopuler

X