Secangkir Kopi Arabika Bajawa Tak Hanya Berhenti di Tangan Barista dan Jangan Sampai Petaninya Jadi Penonton

- Jumat, 20 Januari 2023 | 17:14 WIB
Kopi Arabika Bajawa dalam kemasan. (John Lobo - Penyuka kopi)
Kopi Arabika Bajawa dalam kemasan. (John Lobo - Penyuka kopi)

Bajawa, suluhdesa.com | Hari Kamis (19/01/2023) sekitar Pukul 06:06:01 WITA, saya mendapatkan panggilan via telepon dari Ketua Asosiasi Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) kopi Arabika Flores Bajawa (AFB), Rikardus Nuga.

Percakapan berlangsung selama 10 menit 32 detik. Isi pembicaraan berawal dari apresiasi beliau karena telah mengangkat keresahan dan kegelisahan para pegiat kopi ke media sehingga bisa menjadi informasi untuk masyarakat pada umumnya sekaligus bahan refleksi dan diskusi bagi pihak-pihak terkait sembari menemukan solusi terbaik bagi dunia perkopian di Ngada.

Beberapa problem mendasar tentang Arabika Flores Bajawa (AFB) saat ini adalah pertama, menyusutnya luas lahan yang disinyalir karena terjadinya alih fungsi lahan yaitu perubahan fungsi sebagian atau seluruh kawasan lahan dari fungsinya semula (kopi) menjadi fungsi lain yang membawa dampak tidak menguntungkan seperti hortikultura dan tanaman pangan lainnya.

Kedua, berkurangnya masyarakat Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) kopi yang tersebar di Kecamatan Bajawa, Golewa Barat, dan Golewa. Dua masalah tersebut sangat berpengaruh pada volume atau pasokan kopi yang bakal di kelola pada Unit Pengelola Hasil (UPH) atau sub UPH di beberapa lokasi.

Ketiga adalah urgensinya intervensi pemerintah setempat terkait matinya pohon penaung atau pelindung (dadap) kopi. Hal ini sangat berpengaruh terhadap optimalisasi produksi kopi. Pohon pelindung berfungsi untuk menahan angin, menjaga dari sinar matahari yang terik dan menjaga tanaman kopi dari intensitas curah hujan yang tinggi.

Baca Juga: Tak Ada Habisnya Ngobrol Tentang Kopi Arabika Bajawa Namun UPH Resah dan Gelisah, Mengapa?

Keempat, rejuvenasi/regenerasi atau peremajaan tanaman yang bertujuan untuk memperoleh benih baru dengan daya tumbuh baik, terutama untuk benih-benih yang telah megalami penurunan viabilitas dan rehabilitasi tanaman kopi yang sudah menua.

Kelima, intervensi peningkatan kapasitas petani melalui asosiasi. (simak : https://www.britakan.com/daerah/pr-2006783289/kopi-Arabika-flores-Bajawa-antara-resah-gelisah-mpig-hingga-pengelola-uph-di-kabupaten-ngada-ntt)

Peletakan batu pertama yang menandakan akan berdirinya pabrik pengolahan kopi pada salah satu kelurahan di Kecamatan Bajawa, bagi Rikardus tidak menjadi masalah.

Kami well come asalkan mampu menjawab berbagai persoalan mendasar menyangkut Arabika Flores Bajawa (AFB) seperti yang diuraikan sebelumnya. Secara detail disampaikan bahwa “Apakah cukup signifikan kehadiran perusahaan tersebut dalam kaitan dengan persoalan Indikasi Geografis (IG)”?

Sebelumnya ketika sowan dengan pejabat terkait saya menyampaikan dua hal yaitu dampak ekonomi positif terhadap produsen dan rantai produksinya. Adanya jaminan terhadap reputasi dan karakter kopi. Kedua pendekatan terhadap komunitas MPIG. ini berkaitan dengan harga, volume, dan pendapatan.

Kami prihatin soal pola pendekatan atau komunikasi yang tidak terstruktur dan sistematis terkait keberadaan pabrik pengolahan kopi tersebut. Berikutnya tentang model kerja sama yang akan dibangun antara MPIG dan UKM yang sudah ada.

Aktivitas perusahaan terkait pengolahan kopi bergerak pada level apa? Mau pohon kopi sampai akar - akarnya ? Pada tahap green bean? Biji atau gelondong ?

Jangan sampai ruang gerak petani direbut dan petani jadi penonton. Semua perlu memahamai bahwa banyak segmen dan indikator yang berurusan dengan kopi. Beberapa yang bisa disebutkan antara lain pekebun, pengepul, UPH dan kedai .

Halaman:

Editor: Frids Wawo Lado

Tags

Terkini

Membaca Kontestasi Dapil 1 NTT Menuju Senayan 2024

Selasa, 21 Maret 2023 | 21:54 WIB

Membaca Estetika Lingkungan di Kota Kupang

Minggu, 12 Maret 2023 | 13:05 WIB
X