• Rabu, 30 November 2022

Kolaborasi BRIN dan BPS Dalam Kajian Pembangunan Ekonomi Hijau

- Kamis, 24 November 2022 | 06:22 WIB
Kegiatan Desiminasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Badan Pusat Statistik (BPS) yang berlangsung di Hotel Aston Kupang Nusa Tenggara Timur, Rabu (23/11/2022). (Maria Virginia Nanga)
Kegiatan Desiminasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Badan Pusat Statistik (BPS) yang berlangsung di Hotel Aston Kupang Nusa Tenggara Timur, Rabu (23/11/2022). (Maria Virginia Nanga)

KUPANG, suluhdesa.com | Pembangunan dengan visi ekonomi hijau atau green ekonomi sangat penting untuk dapat menghasilkan produk yang ramah lingkungan serta penerapan teknologi yang ramah lingkungan.

Oleh sebab itu pelibatan aspek demografi yang menekankan dinamika kependudukan menjadi penting dalam paradigma ekonomi hijau, bukan hanya dari sisi kuantitas, namun yang jauh lebih penting adalah kualitas kependudukan itu sendiri.

Demikian disampaikan Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora (IPSH) BRIN Pusat Prof. Dr. Ahmad Najib Burhani, M.A pada kegiatan Desiminasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dengan Badan Pusat Statistik (BPS) yang berlangsung di Hotel Aston Kupang Nusa Tenggara Timur, Rabu (23/11/2022).

Menurut Ahmad Najib Burhani secara nasional temuan pada riset ini memperlihatkan pola pengembangan ekonomi hijau di Indonesia masih bersifat project driven, tidak terorganisasi dengan baik (unorganized) skala kecil dan belum melakukan optimasi pada aset demografi.

Baca Juga: Penjabat Walikota Kupang Minta Sekolah-Sekolah Bentuk Klub Bahasa Inggris

“Untuk mewujudkan komitmen itulah maka BRIN bersama Badan Pusat Statistik (BPS) berkolaborasi dalam Kajian Kualitatif Pembangunan ekonomi hijau dan kondisi sosial demografi penduduk Indonesia untuk mewujudkan kesejahteraan penduduk dan lingkungan berkelanjutan di 34 Provinsi di Indonesia, karena ini adalah bagian dari kajian kualitatif long form sensus penduduk 2020,” terang Ahmad Najib Burhani.

Ahmad menambahkan implementasi konsep ekonomi hijau yang ada saat ini lebih menekankan kepada transformasi ke arah teknologi tinggi/canggih(advanced) dan bagaimana meningkatkan kapasitas sumber daya manusia (SDM) agar menyesuaikan dengan teknologi tersebut.

“Pembangunan ekonomi hijau di Indonesia perlu memperkuat tiga hal penting yakni: kearifan antar generasi (intergenerational wisdom), institusi sosial (sosial institution) serta pengenalan teknologi tepat guna,” ungkap Ahmad Najib.

Selain hasil kajian berupa laporan penelitian, kerjasama dua lembaga ini menghasilkan laporan kebijakan (policy paper) serta film dokumenter jelajah praktik hijau Indonesia yang berjudul “Semai”.

Halaman:

Editor: Redaksi Suluh Desa

Tags

Terkini

Korem 161/WS Hadir Memberikan Solusi Terbaik di NTT

Kamis, 24 November 2022 | 06:39 WIB

Jenazah Sekda NTT akan Diberangkatkan ke Sumba

Senin, 3 Oktober 2022 | 17:43 WIB

DPD Partai Demokrat NTT Tolak Kenaikan BBM

Senin, 5 September 2022 | 16:20 WIB
X